Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Mensos Usul Harga Rokok Rp 100.000 per Bungkus

Selasa, 21 Juli 2020 | 19:04 WITA | 0 Shares Last Updated 2020-07-22T02:13:46Z
Jumlah Perokok Anak Tinggi, Mensos Usul Harga Rokok Rp 100.000 per Bungkus

BONE, BONETERKINI.ID - Menteri Sosial Jualiari Batubara mendukung upaya pencegahan merokok bagi anak usia dini dengan mengusulkan kenaikan harga rokok hingga Rp.100.000 per bungkus.

BACA JUGA: Pelaku Pencurian Hp di Pasar Palakka Terekam CCTV

Mensos Juliari menjelaskan, akses mendapat rokok di Indonesia masih sangat mudah. Sehingga anak di bawah 18 tahun juga bisa mendapatkan rokok tanpa kesulitan. Hal itu jadi salah satu faktor yang membuat anak-anak mudah terpapar rokok.

"Anak-anak ini simpel, mereka ingin terlihat tua, terlihat cool, keren, jadinya merokok. Selain itu, meskipun saya bagian pemerintah, akses terhadap rokok ini harus dibatasi. Bahkan di Indonesia menjual rokok secara ketengan (satuan) masih bisa," kata Juliari saat Webinar Hari Anak Nasional 2020, Senin (20/7/2020) Kemarin.

Juliari menyarankan, proses pembelian rokok seharusnya dipersulit. Salah satunya dengan menaikan harga per satu bungkus rokok. Tujuannya, agar rokok tidak mudah diakses oleh anak-anak.

"Kalau bisa rokok harganya mahal. Satu bungkus minimal 100 ribu. Negara juga dapat cukai lumayan," usul Juliari.

Namun kebijakan tersebut akan berdampak terhadap pemerintah lantaran mendapatkan protes dari para petani tembakau yang menanam bahan utama pembuatan rokok.

Meski begitu, menurut Juliari, kebanyakan produksi rokok saat ini juga telah menggunakan tembakau impor. Sehingga, ia menyarankan sebaiknya petani tembakau berganti jenis tanaman yang dipanen.

"Jadi harus mendesak pemerintah supaya harga rokok dan cukai dinaikan. Ini bukan untuk meningkatkan APBN saja, itu jangka pendek. Jangka panjangnya anak kita terlindungi dari rokok," ucapnya.

Selain berbahaya bagi kesehatan secara fisik, Juliari menyampaikan bahwa rokok bisa menjadi pintu gerbang anak mengenal narkoba. Jika telah terjerumus pada narkoba maka yang dikhawatirkan masa depan anak jadi terancam.

"Harus diingat pengenalan narkoba dari rokok. Lama-lama nyobain ganja lalu sabu. Begitu masuk ke narkoba ya sudah habis. Mau rehab seperti apa pun, kalau sudah narkoba sejak dini itu sudah sulit," ujar Juliari.

×
Berita Terbaru Update