Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Kumpulan Kata Bijak Bugis Tentang Kehidupan yang Dijadikan Petuah Orang Terdahulu

Kamis, 10 Desember 2020 | 16:19 WITA | 0 Shares Last Updated 2020-12-10T08:34:04Z

Kumpulan Kata Bijak Bugis Tentang Kehidupan yang Dijadikan Petuah Orang Terdahulu
Kumpulan kata bijak Bugis tentang kehidupan

BONETERKINI.ID - Bugis atau Ogi merupakan sebutan untuk salah satu suku ternama yang berasal dari dataran Sulawesi. Terletak di provinsi Sulawesi Selatan. Suku Bugis tersebar di sana di beberapa wilayah, seperti Bone, Soppeng, Wajo, Sidrap, Pinrang, dan wilayah lainnya.


Seperti halnya dengan suku-suku lain yanga ada di Indonesia, Bugis memiliki kata-kata bijak yang selalu dijadikan petuah secara turun temurun sejak jaman dahulu. Kata bijak atau petuah Bugis terangkai dengan penggunaan bahasa yang indah, tersusun dengan rapih.


Bagi sebagian masyarakat, kata-kata bijak Bugis tersbut masih dijadikan pedoman dan pengingat dalam menjalani kehidupan.


Berikut kumpulan kata bijak Bugis tentang kehidupan yang dijadikan petuah orang terdahulu: 


Pada sitarongekki siri, iyaregga ripada jagai siri’ta.


"Jagalah aib orang, juga jagalah aib sendiri."


Setiap orang harus saling menghargai, saling menghormati, saling menjaga diri, supaya tidak saling menyakiti apalagi saling membicarakan aib.


Jagai balimmu siseng, alitutui rakanemmu wekka seppulo, nasaba’ rakanemmu ritu biasa mancaji bali.


“Jagalah lawanmu sekali dan bersiagalah terhadap temanmu sepuluh kali lipat sebab sekutu itu bisa menjadi lawan”


Dalam beberapa kondisi, kita harus lebih waspada terhadap orang-orang yang berada di sekeliling kita. Karena kita tidak pernah tahu, kapan seorang teman akan berputar haluan menjadi musuh dan membuat posisi rentan karena yang bersangkutan mengetahui rahasia dan kelemahan kita.


Tellu ritu riapparentang riakkarungengnge, mula mulanna riparentai sibawa cenning ati, maduanna riparentai sibawa siri’, matelluna riparentai sibawa tauna.


"Ada tiga jenis perintah dalam jabatan, pertama-tama perintahlah dengan ketulusan hati, kedua perintahlah karena harga diri, ketiga perintahlah karena rasa takut."


Massesa panga, temmassesa api, massesa api temmassesa botoreng.


"Bersisa pencuri tak bersisa api, bersisa api tak bersisa penjudi”. 


Betapa pun pintarnya pencuri tak mampu mengambil semua barang, seberapa besarnya kebakaran hanya mampu menghancurkan barang-barang. Akan tetapi seorang penjudi dapat menghabiskan seluruh barang milik kita dalam waktu singkat.


Aja' muangoai onrong, aja'to muacinnai tanre tudangeng, nasaba detumullei padecengi tana. Risappapo muompo, rijello’po muakkengau.


"Jangan serakah dengan kedudukan, janganlah terlalu terobsesi terhadap jabatan yang tinggi, karena pasti kamu tidak akan mampu memperbaiki suatu wilayah. Muncullah ketika dicari, mengakulah jika sudah ditunjuk."


Petuah bugis ini bermakna sangat dalam. Selalu menjadi petunjuk bagi para pemimpin-pemimpin ternama dari tanah Bugis. Dalam kehidupan Bugis, orang tua terdahulu melarang kita untuk terlalu mengejar sebuah jabatan, karena pasti akan mendatangkan kerugian. Mereka selalu berpesan agar perbanyak diam, biarkan orang yang mengakui kecerdasan dan keahlian kita.


Naiya accae ripatoppoki jekko, ri ebara’i aliri, narekko teyai mareddu’, mapoloi.


"Sebuah kecerdasan yang disertai dengan kelicikan, ibarat tiang rumah, kalau tidak tercabut, ia akan patah”. 


Kata Bijak Bugis ini merupakan kiasan terhadap orang pandai tetapi tidak berlaku jujur. Ilmunya tak akan mendatangkan kebaikan, hanya akan memberi kehancuran. Entahh untuk dirinya sendiri, maupun orang lain.


Iyyapa nari isseng lamunna salo’e na loanna, rekko purai ri atengngai.


"Luas dan kedalaman sebuah sungai dapat diketahui ketika kita telah menyeberanginya."


Kita tidak akan pernah tahu sebelum mencobanya. Mungkin itulah kata bijak yang paling cocok menggambarkan petuah Bugis di atas. Terhadap segala hal, sangat kecil kesempatan untuk mengetahuinya jika kita tidak melakukannya langsung.


Tau magello’ akkalengna de’ napaccaireng, saba sampoengngi akalengge iyanaritu sipa’ paccairengnge.


”Orang cerdas adalah orang yang bagus akalnya, tidak suka marah, karena yang menutupi akal pikiran manusia adalah sifat suka marah"


Jadi orang cerdas adalah orang yang memiliki akal pikiran yang baik. Seperti ia dapat bersabar dalam menghadapi persoalan yang genting, tahan banting terhadap ujian hidup, proaktif mencari solusi yang dapat menyelasaikan urusannya dengan baik.


Alai cedde’e risesena engkai mappedeceng, sampeangngi maegae risesena engkai maega makkasolang.


"Ambil yang sedikit jika itu mendatangkan kebaikan, dan tolaklah yang banyak jika yang banyak itu mendatangkan kerusakan”. 


Petuah Bugis ini mengajarkan kita untuk tidak menjadi orang serakah terhadap sesuatu. Tak peduli berapa jumlahnya, jika itu demi kebaikan maka ambillah. Sebaliknya, sebanyak apapun hal tersebut, tolaklah jika memang akan mendatangkan kerusakan.


Narekko mateko rilalenna tongengnge, mate risantangikotu mbe’.


"Jika kamu mati di jalan kebenaran, maka matimu berada dalam santan (kelezatan)”


Artinya, jangan pernah takut untuk membela sebuah kebenaran. Sebab jika pada akhirnya itu membuat kita mati, maka kematian itu bukan sebuah kesia-kesiaan. Melainkan sebuah kematian dalam keindahan.


Duwa laleng tempedding riola, iyanaritu lalenna passarie enrengnge lalenna paggollae.


"Ada dua cara tak dapat ditiru, ialah cara pembuat tuak (penyadap pohon lontar) dan cara pembuat gula merah”


Jalan yang ditempuh penyadap enau tak tentu, kadang dari pohon ke pohon lain melalui pelepah atau semak belukar, sehingga dikiaskan sebagai menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Sedangkan bagi pembuat gula merah umumnya tak menghiraukan kebersihan, lantaran itu tak diketahui orang. Kedua sikap di atas tak pantas ditiru karena mempunyai itikad kurang. Hal ini tidak berarti tidak boleh mencari nafkah sebagai penyadap dan pembuat gula asalkan lebih jujur dan bertanggung jawab.


Tellui somperenna lino: Lempuu, Getteng, Ada Tongeng na Appasikua. Narimakkuannanaro aja’ lalo musala panguju, aja’to mutettangngi sempajangmu, aja’ lalo mucapa-capai pappasekku, nasaba’ anu maddupa tu matti


"Ada tiga hal terpenting dalam mengarungi dunia, yakni; Kejujuran, Keteguhan hati, tutur kata yang berlandaskan kebenaran dan keikhlasan menerima apa adanya. Sehingga, janganlah kamu salah rencana dan salah melangkah, dan juga janganlah kamu pernah meninggalkan sembahyang lima waktu, serta janganlah kamu memandang remeh petuah ini, karena itu mengandung kebenaran yang akan menjadi kenyataan kelak."


Itulah kumpulan kata bijak Bugis yang seringkali dijadikan petuah dalam menjalani kehidupan. Semoga bermanfaat.

×
Berita Terbaru Update