Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Iklan

Indeks Berita

Tag Bone Terkini

Mitos atau Fakta: Minum Air Kelapa Bisa Hilangkan Efek Vaksin?

Kamis, 08 Juli 2021 | 18:17 WITA | 0 Shares Last Updated 2021-07-08T13:37:07Z
Mitos atau Fakta: Minum Air Kelapa Bisa Hilangkan Efek Vaksin?
Foto: Istimewa



BONETERKINI.ID - Vaksinasi COVID-19 terus dilakukan untuk menekan risiko penyebaran infeksi SARS-CoV-2. Tingginya tingkat vaksinasi ini juga dibarengi munculnya berbagai kepercayaan di masyarakat terkait vaksin tersebut. Beberapa orang percaya bahwa minum air kelapa dapat membantu menghilangkan efek vaksin.


Namun, anggapan itu tak benar adanya atau MITOS. Berikut penjelasan air kelapa yang bisa hilangkan efek vaksin?


Dokter ahli penyakit dalam, Edi Hidayat menjelaskan fenomena masyarakat yang meminum air kelapa sebelum atau sesudah menerima suntikan vaksin COVID-19, untuk menetralisasi fungsi vaksin sama sekali tidak benar dan hanya sebuah mitos.


"Jadi, fenomena ramai-ramai minum air kelapa untuk mencegah fungsi vaksin itu sebaiknya dihentikan. Karena fungsi vaksin yang masuk ke dalam tubuh itu tetap ada," ujarnya.


Karena Vaksin yang sudah disuntik tersebut bukan racun seperti yang selama ini disangka oleh sebagian besar masyarakat di Tanah Air, termasuk di Sulawesi Selatan.


Karena sebenarnya vaksin COVID-19 mengadung antigen yang bertujuan untuk membentuk antibodi, guna memperkuat imunitas seseorang dan kebal terhadap virus.


Selain itu dalam 100 mililiter air kelapa mengandung sejumlah senyawa seperti natrium, fosfor, kalsium, karbohidrat, serta kandungan vitamin lainnya untuk memperkuat imunitas.


Karena vitamin di dalam air kelapa berfungsi sebagai antioksidan untuk mencegah radikal bebas di dalam tubuh, dan sama fungsinya dengan vaksin COVID-19 yang sudah disuntik ke masyarakat.


Namun, bagi masyarakat yang gemar meminum air kelapa untuk meningkatkan imunitas, hal tersebut boleh-boleh saja. Asalkan masyarakat tidak berpikir bahwa dengan meminum air kelapa akan menurunkan fungsi vaksin COVID-19. Itu adalah kekeliruan dan sama sekali tidak benar.


×
Berita Terbaru Update